Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Oktober 2014

Harapan Bagi Perkembangan Telematika di Indonesia

Telematika sebenarnya memiliki arti yang cukup luas, definisi dari Istilah telematika merujuk pada hakikat cyberspace sebagai suatu sistem elektronik yang lahir dari perkembangan dan konvergensi telekomunikasi, media dan informatika.

Lebih jauh lagi istilah Telematika kemudian merujuk pada perkembangan konvergensi antara teknologi telekomunikasi, media dan informatika yang semula masing-masing berkembang secara terpisah. Konvergensi telematika kemudian dipahami sebagai sistem elektronik berbasiskan teknologi digital atau (The Net). Dalam perkembangannya istilah Media dalam telematika berkembang menjadi wacana multimedia. Hal ini sedikit membingungkan masyarakat, karena istilah Multimedia semula hanya merujuk pada kemampuan sistem komputer untuk mengolah informasi dalam berbagai medium adalah suatu ambiguitas jika istilah telematika dipahami sebagai akronim Telekomunikasi, Multimedia dan Informatika. Secara garis besar istilah Teknologi Informasi (TI), telematika, multimedia, maupun Information and Communication Technologies (ICT) mungkin tidak jauh berbeda maknanya, namun sebagai definisi sangat tergantung kepada lingkup dan sudut pandang pengkajiannya. Referensi

Berdasarkan itu, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa telematika sebenarnya memiliki arti sebagai suatu sarana atau alat untuk menyampaikan dan atau menerima informasi melalui sebuah komunikasi yang terjadi baik secara searah maupun timbal balik.
Perkembangan telematika di saat sekarang ini sudah tumbuh dengan sangat sangat pesat dibandingkan dengan saat dulu. Jika dulu media untuk berkomunikasi hanya terbatas dengan beberapa device, sekarang ini hampir disegala lini kita dapat menemukan alat untuk saling bertukar informasi. Meledaknya penggunaan internet, smartphone, tablet PC dan juga GPS. Merupakan sedikit contoh dari besarnya perkembangan telematika.

Di Indonesia sendiri, perkembangan mengenai telematika ini terhitung sudah cukup baik. Khususnya di kota-kota besar dimana penggunaan alat-alat atau sarana untuk mendapatkan atau memberikan informasi ini sudah menjadi rutinitas. Namun itu tidak menutup kekurangan bahwa sebenarnya masih banyak hal yang harus dikejar guna mencapai perkembangan telematika yang lebih baik.
Harapan untuk perkembangan telematika di Indonesia sebenarnya dimulai dari hal yang paling mendasar, yaitu dengan dilakukannya pemerataan infrastruktur-infrastruktur yang menyangkut dengan perkembangan teknologi informatika di daerah-daerah yang masih belum tercapai. Seperti di kawasan Indonesia timur dan daerah-daerah pelosok terpencil lainnya. Hal ini harus dilakukan agar kesenjangan atau gap antara daerah yang sudah maju dengan daerah yang sedang berkembang ataupun masih terpencil tidak terlampau jauh.

Senin, 24 Maret 2014

Jakarta


JAKARTA...

Apa yang ada dalam benak semua orang ketika pertama kali mendengar kata diatas ? beragam jawaban tentunya. Kota impian, ibukota negara, megapolitan, kemacetan, banjir, padat, dan sebagainya. Semua kata-kata tersebut terlontar ketika ditanya mengenai Jakarta.

Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta, Jakarta Raya) adalah ibu kota negara Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi. Terletak di bagian barat laut pulau Jawa, Jakarta berbatasan dengan provinsi Jawa Barat dan di sebelah barat berbatasan dengan provinsi Banten. Jakarta memiliki suhu udara yang panas dan kering atau beriklim tropis.

Pertanyaannya adalah, mengapa sebuah kota yang menyandang status megapolitan ini memiliki banyak masalah yang rumit dan kompleks ? apakah tidak ada cara untuk mengatasinya ? mari kita lihat satu persatu dari sebagian masalah yang ada.

Banjir, salah satu masalah Jakarta yang paling utama. Bahkan sudah ada saat pertama kali kota ini berdiri dan sudah belasan kali berganti nama. Batavia, Jayakarta, Sunda Kelapa, merupakan sedikit dari nama yang pernah disandang oleh Jakarta. Semua nama itu juga tetap merasakan yang namanya banjir. Mengapa, salah satu alasannya karena Jakarta terletak pada dataran rendah dengan ketinggian hanya 8 meter dpl. Selain itu, daerah sebelah selatan Jakarta juga merupakan daerah dengan curah hujan yang paling tinggi. 



Jakarta mengalami puncak musim penghujan pada bulan Januari dan Februari dengan rata-rata curah hujan 350 milimeter dengan suhu rata-rata 27 °C. Curah hujan antara bulan Januari dan awal Februari sangat tinggi, pada saat itulah Jakarta dilanda banjir setiap tahunnya, dan sering dikenal dengan istilah “Siklus 5 Tahun” yang mendatangkan banjir besar. masalah ini sebenarnya sudah beberapa kali dicarikan solusinya, yaitu dengan cara pembangunan waduk, pengerukan kali, dll. Namun tetap tidak bisa membendung datangnya banjir yang juga disebabkan karena pembangunan yang memakai lahan yang seharusnya lahan itu digunakan untuk resapan air.

Masalah selanjutnya yaitu kemacetan, macet bagi sebagian besar penduduk Jakarta bukan lagi menjadi sebuah masalah, malah sudah menjadi salah satu bagian hidup dari mereka. Bahkan ada istilah kalau tidak macet berarti itu bukan Jakarta, sungguh betapa kronisnya penyakit macet ini buat warganya. Ketika hujan sehari dua kali, macet, sebuah kata yang harusnya jarang tiba-tiba menjadi dekat dengan makan dan minum. Sebanyak dua juta manusia yang berbondong-bondong di sore hari, berjejalan dalam bus transjakarta, metro mini, bus patas, bajai, ojek, kereta api, atau taxi dirindui kasur dan bantal di rumah seperti musafir yang kangen gubuk di belahan sana. Tertunduk dengan wajah-wajah lusuh, kusam, seolah dibebankan utang tak berperi.

Senin, 21 Oktober 2013

Artikel : Tanggung Jawab Moral

Tahun 2014 menjadi tahun yang ditunggu – tunggu oleh masyarakat Indonesia, karena pada tahun tersebut kita akan mendapatkan seorang pemimpin negara yang baru, pemimpin negara yang akan menuntun kita menuju sebuah kemajuan atau bahkan kemunduran, seorang pemimpin yang akan memperkenalkan Indonesia ke tingkat Internasional baik itu dalam hal yang  terlihat bagus ataupun hal yang buruk. Dan kesemua hal itu tergantung dari diri kita sendiri.  Mengapa ? karena di tangan kitalah pemimpin tersebut akan terpilih, kita sebagai rakyat Indonesia yang mempunyai suara sah dengan ketentuan tertentu adalah yang mempunyai  kuasa.  

Siapakah orang yang berhak diangkat menjadi pemipin dari negara dengan 240 juta lebih jiwa ini ? yang menjadi permasalahan adalah, sudahkah kita tahu siapa pemimpin yang akan kita angkat ? pemipin yang akan membawa kehidupan kenegaraan kita kedepan. Pantaskah dia ? apa yang dia punya ? semua pertanyaan itu tentu bisa kita jawab sendiri sendiri. Sebagian orang pasti sudah punya pilihan tersendiri soal siapa yang akan dia pilih nantinya, sebagian orang lagi belum mengetahui siapa yang akan dipilihnya, dan sebagian orang lagi malah memilih cuek atau istilahnya masa bodo dengan pemimpin kita nanti, istilah yang dipakai untuk orang-orang seperti  ini dalam ilmu politik disebut golput, yang berarti golongan putih. Atau tidak memihak kepada siapapun.  

Dalam hal golput ini, masih terbagi lagi. Ada yang memilih golput karena memang dia merasa siapapun pemimpin yang naik tak akan merubah apapun yang sudah terjadi pada negara ini. Ada lagi yang memilih golput karena calon pemimpin yang dia inginkan tidak maju dalam pemilihan presiden, makanya dia pun memilih golput dengan alasan pasrah atau memilih melepaskan hak pilihnya.